Sabtu, 30 November 2013



Janji Allah Yang Sering Disia-siakan

Sejak tadi malam, hujan rintik-rintik belum juga berhenti hingga suara peringatan untuk menunaikan shalat subuh dikumandangkan oleh santri yang bertugas sebagai takmir masjid ar riyadh hidayatullah, saya terbangun dari tidur sambil mengusap mata yang masih hendak melanjutkan tidur, berat rasanya untuk bangkit dari peraduan, ditambah lagi suasana dingin yang mendera hingga  ketulang sum-sum sejak tadi malam.
Shalah....shalah...., shalah....shalah.... waktu shalat subuh kurang 30 menit. Panggilan khas ala santri Hidayatullah yang selalu setia keluar dari corong masjid untuk memperingatkan warga kampus pesantren hidayatullah setiap menjelang shalat menyadarkanku, waktu terbaik untuk menghadap Allah telah hampir belalu, 30 menit tersisa dari sepertiga malam yang oleh Allah menyatakan dalam hadits qudsi rasul-Nya, "Allah turun ke langit dunia setiap malam pada sepertiga malam terakhir. Allah lalu berfirman, Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan! Siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku beri! Siapa yang meminta ampun kepada-Ku tentu Aku ampuni. Demikianlah keadaannya hingga terbit fajar" saya berusaha mengabaikan rasa malas yang diakibatkan kantuk yang masih medominasi kesadaranku untuk berdo’a lalu  bangkit menunju kamar mandi memberisihkan diri. Sekitar 15 menit kegiatan bersih-bersih baru tuntas mulai dari buang air, mandi, sikat dan akhirnya berwudhu, saya berusaha  merasakan sentuhan air yang begitu lembut menyentuh permukaan kulitku dari ujung rambut hingga ujung kaki, subuhanallah begitu besar karunia-Mu.
Sehabis besih-bersih, segera megenakan pakain shalat lalu menggelar sajadah untuk shalat sunah meskipun waktu tersisa menjelang salat subuh tinggal beberapa menit saja, dalam benakku “meskipun waktu tersisa hanya beberapa menit, jauh lebih baik jika saya maksimalkan untuk untuk menghadap Tuhanku”
Shalah....shalah...., shalah....shalah.... waktu shalat subuh kurang lima belas menit. Terdengar kembali peringatan dari masjid yang disampaikan oleh santri-santri pilihan penjaga waktu shalat. Alhamdulillah, masih cukup untuk shalat tahajjud dua rakaat dan shalat witir satu rakaat meskipun waktu tersisa hanya 15 menit dengan konsekwensi bacaan shalat lebih dipendekkan. Segala puji bagi-Mu Tuhan yang mengizinkan hamba-Mu di ujung malam-Mu ini dapat menemui-Mu dengan segala kekurangan, keterbatasan, dan ketidak sempurnaan bahkan terkesan dipaksakan. Ijinkan kami pada kesempatan lain dapat lebih lama lagi bersama-Mu.
Setelah salalm pada rakaat kedua, kuangkat kedua tanganku dan berusaha fokus mengingat sesalahan-kesalahanku, kepura-puraanku, keterlanjuranku, kebodohanku, kezalimanku, kelalaianku, Tuhan belum ada rasanya kebaikan yang saya lakukan murni karena-Mu, ampunilah dosaku, karuniailah rahmat-Mu kepadaku, Tuhan hamba ini malu menghadap-Mu, namu pada siapa lagi aku berharap ampunan selain kepada-Mu. Ya Allah, ampunalah saya, maafkan kesalahanku. Tidak terasa bulir-bulir bening beriringan keluar dari kelopak mata.
Allahu Akbar, Allahu Akbar...
Suara azan terdengar lantang, saya menyeka air mata itu dengan sorban coklat bergaris putih yang setia menemaniku dalam pertemuan singkatku dengan Tuhanku, saya bersyukur dapat berjumpa dengan-Nya dalam shalat dan munajak hamba meski shalat witir tidak sempat lagi kulaksanakan, perasaanku lebih tenang menyambut fajar, lebih percaya diri menyongsong aktifitas hari ini karena ada keyakinan, Allah bersama kami.