Janji Allah Yang Sering Disia-siakan
Sejak tadi malam, hujan rintik-rintik
belum juga berhenti hingga suara peringatan untuk menunaikan shalat subuh
dikumandangkan oleh santri yang bertugas sebagai takmir masjid ar riyadh
hidayatullah, saya terbangun dari tidur sambil mengusap mata yang masih hendak
melanjutkan tidur, berat rasanya untuk bangkit dari peraduan, ditambah lagi
suasana dingin yang mendera hingga ketulang
sum-sum sejak tadi malam.
Shalah....shalah...., shalah....shalah.... waktu shalat subuh kurang 30
menit. Panggilan
khas ala santri Hidayatullah yang selalu setia keluar dari corong masjid untuk
memperingatkan warga kampus pesantren hidayatullah setiap menjelang shalat
menyadarkanku, waktu terbaik untuk menghadap Allah telah hampir belalu, 30
menit tersisa dari sepertiga malam yang oleh Allah menyatakan dalam hadits
qudsi rasul-Nya, "Allah turun ke langit
dunia setiap malam pada sepertiga malam terakhir. Allah lalu berfirman, Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku
kabulkan! Siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku beri! Siapa yang meminta
ampun kepada-Ku tentu Aku ampuni. Demikianlah keadaannya hingga terbit
fajar" saya berusaha mengabaikan rasa malas yang
diakibatkan kantuk yang masih medominasi kesadaranku untuk berdo’a lalu bangkit menunju kamar mandi memberisihkan
diri. Sekitar 15 menit kegiatan bersih-bersih baru tuntas mulai dari buang air,
mandi, sikat dan akhirnya berwudhu, saya berusaha merasakan sentuhan air yang begitu lembut
menyentuh permukaan kulitku dari ujung rambut hingga ujung kaki, subuhanallah
begitu besar karunia-Mu.
Sehabis besih-bersih, segera megenakan pakain
shalat lalu menggelar sajadah untuk shalat sunah meskipun waktu tersisa
menjelang salat subuh tinggal beberapa menit saja, dalam benakku “meskipun
waktu tersisa hanya beberapa menit, jauh lebih baik jika saya maksimalkan untuk
untuk menghadap Tuhanku”
Shalah....shalah...., shalah....shalah.... waktu shalat subuh kurang lima belas
menit. Terdengar
kembali peringatan dari masjid yang disampaikan oleh santri-santri pilihan
penjaga waktu shalat. Alhamdulillah, masih cukup untuk shalat tahajjud dua rakaat
dan shalat witir satu rakaat meskipun waktu tersisa hanya 15 menit dengan
konsekwensi bacaan shalat lebih dipendekkan. Segala puji bagi-Mu Tuhan yang
mengizinkan hamba-Mu di ujung malam-Mu ini dapat menemui-Mu dengan segala
kekurangan, keterbatasan, dan ketidak sempurnaan bahkan terkesan dipaksakan.
Ijinkan kami pada kesempatan lain dapat lebih lama lagi bersama-Mu.
Setelah salalm pada rakaat kedua, kuangkat
kedua tanganku dan berusaha fokus mengingat sesalahan-kesalahanku,
kepura-puraanku, keterlanjuranku, kebodohanku, kezalimanku, kelalaianku, Tuhan
belum ada rasanya kebaikan yang saya lakukan murni karena-Mu, ampunilah dosaku,
karuniailah rahmat-Mu kepadaku, Tuhan hamba ini malu menghadap-Mu, namu pada
siapa lagi aku berharap ampunan selain kepada-Mu. Ya Allah, ampunalah saya,
maafkan kesalahanku. Tidak terasa bulir-bulir bening beriringan keluar dari
kelopak mata.
Allahu Akbar, Allahu Akbar...
Suara azan terdengar lantang, saya
menyeka air mata itu dengan sorban coklat bergaris putih yang setia menemaniku
dalam pertemuan singkatku dengan Tuhanku, saya bersyukur dapat berjumpa
dengan-Nya dalam shalat dan munajak hamba meski shalat witir tidak sempat lagi
kulaksanakan, perasaanku lebih tenang menyambut fajar, lebih percaya diri
menyongsong aktifitas hari ini karena ada keyakinan, Allah bersama kami.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar