Sepenggal
Kenangan
Saat
KKN di Bojonegoro
Sore yang indah,
angin bertiup perlahan, dari kejauhan, warna merah jingga menghias cakrawala,
suara jangkrik terdengar sayup-sayup, sang surya hendak menuju keperaduannya,
sebentar lagi malam akan tiba.
Kami melangkah lebih
cepat lagi, jarak tempuh antara posko utama KKN dengan posko kelompok tiga
tempat tiggal kami bersama kesembilan teman-teman kurang lebih empat
kilometer, lumayan jauh, jika ditempuh dengan jalan kaki cukup menguras energi,
waktu dibutuhkan lumayan lama, kira-kira empat puluh menit normalnya, apatah
lagi jalan-jalan di dusun tempat kami KKN 100% belum beraspal, sebagian jalan
ketika tiba musim hujan, becek berat, sehingga sulit untuk dilewati kendaraan
roda dua, apalagi kendaran roda empat, kalau terlanjur masuk ke dusun tersebut
dan belum sempat keluar hingga hujan turun, yakin dan percaya harus tinggal
gigit jari dulu sambil menunggu jalanan mengering, lama juga ya, begiutlah
kira-kira, bisa jadi dua atau tiga hari jika matahari bersinar terik, kalau
kurang untung bisa berminggu-minggu. (kala itu)
Belum separuh jarak
saya tempuh bersama sahabatku, suara jangkrik semakin ramai bersahut-sahutan
pertanda waktu magrib sudah masuk, isyarat alam yang tak pernah luput
mengingatkan manusia akan datangnya waktu shalat, juga tidak akan pernah
memanipulasi waktu, memajukan atau memundurkannya, binatang-binatang yang
sengaja dikirim oleh Allah swt sebagai bentuk kesempurnaan kasih sayang-Nya
kepada penduduk bumi.
Piiit... Piiit...
Piiit... tiba-tiba dari belakang saya, ada suara klakson motor yang bersahutan.
saya berbalik, dua sorot lampu kuning menyala mengarah kepada kami ...
alhamdulillah dalam batinku, sepertinya Tuhan mengirim bala bantuan tepat pada
waktunya, jarak tempuh masih lumayan jauh sementara waktu magrib sudah tiba,
ditambah lagi jalan antara posko utama dengan posko kelompok kami tidak satu
rumahpun ada disana yang dapat ditumpangi sekedar mampir untuk shalat.
“Mas... mau kemana ni?” Gadis
yang berhenti tepat disisi saya bertanya, “menuju sendang mbak” jawab saya.
“Ayo naik bersama kami, kami berdua juga mau kesana, kebetulan kami berdua
tidak ada tumpangannya”.
Dalam batinku terjadi
pertarungan sengit antara numpang mengikuti ajakan mbak tadi dengan kosekwensi
duduk manis di belakang wanita cantik atau menjadi joki yang di belakangnya
duduk bidadari cantik mengiringi perjalanan kami atau jalan kaki sementara
tujuan yang akan didatangi masih jauh dan waktu magrib sudah tiba.
Sebenarnya kami bisa
saja pergi bersama mereka asal ada kompromi sedikit, saya dan sahabat saya satu
motor bersama, yang penting cewek tadi mau mengalah untuk boncengan dengan
sahabatnya, tapi dipikir-pikir, solusi tersebut bukan tanpa resiko juga.
Terima kasih mbak atas maksud
baik menolong kami, semoga Allah membalas kebaikan mbak dan mas dengan
ganjaran yang jauh lebih baik lagi, kami berdua memutuskan untuk jalan kaki
saja, kami mau menikmati indahnya malam bersama cahaya rembulan. Setelah
berbasa basi sedikit, mereka meninggalkan kami.
Inilah solusi yang
paling aman, kami selamat, mereka juga selamat.
Saat itu, kami di
Sendang Banyu Urip baru beberapa hari, misi kehadiran bersama ketigapuluhsembilan
mahasiswa STAIL Luqman al Hakim Hidayatullah Surabaya adalah berdakwah di bawah
naungan HIDAYATULLAH, sebuah lembaga yang lahir di bumi Borneo sejak tahun 1974
dan hingga kini sudah menyebar keseluruh privinsi di Indonesia bahkan pada
setiap kabupaten kota, visi besarnya adalah “Membangun Peradaban Islam”. Dengan
dasar inilah, kami harus hati-hati dalam memilih tindakan, kami selalu berusaha
mendahulukan pertimbangan syar’i dari pada kepentingan yang lain, tidak sedikit
kasus, kami harus mengorbankan melayani nafsu, intres pribadi, kepentingan
kelompok, demi terealisasinya syariat islam dalam pribadi-pribadi kami.
Pada awalnya,
pandangan sebagian masayarakat Desa Jati belimbing mungkin kami adalah
manusia-manusia aneh yang hidup dizaman ini, membatasi interaksi dengan lawan
jenis, tidak mau salaman dengan perempuan bukan mahram, menundukkan pandangan,
tidak mau boncengan dengan wanita, menhindari mendengar musik yang membangkitkan
nafsu, tidak berkhalwat, waktu shalat berusaha berada di masjid.
Tetapi perlu
diketahui, dengan keanehan-keanehan yang kami miliki inilah awal jatuh hatinya
masyarakat Jati Belimbing kepada kami, bapak-bapak, ibu-ibu, remaja-remaja
tidak ketinggalan anak-anak, inilah titik awal keberhasilan membawa misi
dakwah di sana.
Semua simpati, tidak
sedikit yang berempati.
Jarum jam dinding
menunjuk pukul 18:30 menit lewat sedikit, lama perjalanan kami tempuh dari
posko utama ke posko kelompok tiga kurang lebih 35 menit, lima menit lebih
cepat dari waktu biasanya, ada rekor baru ni, he he.
Setelah melepas lelah
seadanya, saya menuju tempat wudhu yang berada di samping dapur rumah yang kami
tinggali, saya berusaha merasakan sentuhan air segar yang menyentuh kulitku,
masya Allah, nikmat sekali.
Setelah tuntas
bersih-bersih dan berwudhu lalu berdo'a dan segera mendirikan shalat magrib
berjamaah yang nyaris ketinggalan.
Alhamdulillah, segala
puji bagi-Mu wahai Tuhan, hanya dengan petunjuk-Mu saja kami bisa istiqomah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar