Minggu, 01 Desember 2013



Sepenggal Kenangan
Saat KKN di Bojonegoro


Sore yang indah, angin bertiup perlahan, dari kejauhan, warna merah jingga menghias cakrawala, suara jangkrik terdengar sayup-sayup, sang surya hendak menuju keperaduannya, sebentar lagi malam akan tiba.
Kami melangkah lebih cepat lagi, jarak tempuh antara posko utama KKN dengan posko kelompok tiga tempat tiggal kami bersama kesembilan teman-teman  kurang lebih empat kilometer, lumayan jauh, jika ditempuh dengan jalan kaki cukup menguras energi, waktu dibutuhkan lumayan lama, kira-kira empat puluh menit normalnya, apatah lagi jalan-jalan di dusun tempat kami KKN 100% belum beraspal, sebagian jalan ketika tiba musim hujan, becek berat, sehingga sulit untuk dilewati kendaraan roda dua, apalagi kendaran roda empat, kalau terlanjur masuk ke dusun tersebut dan belum sempat keluar hingga hujan turun, yakin dan percaya harus tinggal gigit jari dulu sambil menunggu jalanan mengering, lama juga ya, begiutlah kira-kira, bisa jadi dua atau tiga hari jika matahari bersinar terik, kalau kurang untung bisa berminggu-minggu. (kala itu)
Belum separuh jarak saya tempuh bersama sahabatku, suara jangkrik semakin ramai bersahut-sahutan pertanda waktu magrib sudah masuk, isyarat alam yang tak pernah luput mengingatkan manusia akan datangnya waktu shalat, juga tidak akan pernah memanipulasi waktu, memajukan atau memundurkannya, binatang-binatang yang sengaja dikirim oleh Allah swt sebagai bentuk kesempurnaan kasih sayang-Nya kepada penduduk bumi.
Piiit... Piiit... Piiit... tiba-tiba dari belakang saya, ada suara klakson motor yang bersahutan. saya berbalik, dua sorot lampu kuning menyala mengarah kepada kami ... alhamdulillah dalam batinku, sepertinya Tuhan mengirim bala bantuan tepat pada waktunya, jarak tempuh masih lumayan jauh sementara waktu magrib sudah tiba, ditambah lagi jalan antara posko utama dengan posko kelompok kami tidak satu rumahpun ada disana yang dapat ditumpangi sekedar mampir untuk shalat.
“Mas... mau kemana ni?” Gadis yang berhenti tepat disisi saya bertanya, “menuju sendang mbak” jawab saya. “Ayo naik bersama kami, kami berdua juga mau kesana, kebetulan kami berdua tidak ada tumpangannya”.
Dalam batinku terjadi pertarungan sengit antara numpang mengikuti ajakan mbak tadi dengan kosekwensi duduk manis di belakang wanita cantik atau menjadi joki yang di belakangnya duduk bidadari cantik mengiringi perjalanan kami atau jalan kaki sementara tujuan yang akan didatangi masih jauh dan waktu magrib sudah tiba.
Sebenarnya kami bisa saja pergi bersama mereka asal ada kompromi sedikit, saya dan sahabat saya satu motor bersama, yang penting cewek tadi mau mengalah untuk boncengan dengan sahabatnya, tapi dipikir-pikir, solusi tersebut bukan tanpa resiko juga.
Terima kasih mbak atas maksud baik menolong kami, semoga Allah membalas  kebaikan mbak dan mas dengan ganjaran yang jauh lebih baik lagi, kami berdua memutuskan untuk jalan kaki saja, kami mau menikmati indahnya malam bersama cahaya rembulan. Setelah berbasa basi sedikit, mereka meninggalkan kami.
Inilah solusi yang paling aman, kami selamat, mereka juga selamat.
Saat itu, kami di Sendang Banyu Urip baru beberapa hari, misi kehadiran bersama ketigapuluhsembilan mahasiswa STAIL Luqman al Hakim Hidayatullah Surabaya adalah berdakwah di bawah naungan HIDAYATULLAH, sebuah lembaga yang lahir di bumi Borneo sejak tahun 1974 dan hingga kini sudah menyebar keseluruh privinsi di Indonesia bahkan pada setiap kabupaten kota, visi besarnya adalah “Membangun Peradaban Islam”. Dengan dasar inilah, kami harus hati-hati dalam memilih tindakan, kami selalu berusaha mendahulukan pertimbangan syar’i dari pada kepentingan yang lain, tidak sedikit kasus, kami harus mengorbankan melayani nafsu, intres pribadi, kepentingan kelompok, demi terealisasinya syariat islam dalam pribadi-pribadi kami. 
Pada awalnya, pandangan sebagian masayarakat Desa Jati belimbing mungkin kami adalah manusia-manusia aneh yang hidup dizaman ini, membatasi interaksi dengan lawan jenis, tidak mau salaman dengan perempuan bukan mahram, menundukkan pandangan, tidak mau boncengan dengan wanita, menhindari mendengar musik yang membangkitkan nafsu, tidak berkhalwat, waktu shalat berusaha berada di masjid.
Tetapi perlu diketahui, dengan keanehan-keanehan yang kami miliki inilah awal jatuh hatinya masyarakat Jati Belimbing kepada kami, bapak-bapak, ibu-ibu, remaja-remaja tidak ketinggalan anak-anak, inilah titik awal keberhasilan  membawa misi dakwah di sana.
Semua simpati, tidak sedikit yang berempati. 
Jarum jam dinding menunjuk pukul 18:30 menit lewat sedikit, lama perjalanan kami tempuh dari posko utama ke posko kelompok tiga kurang lebih 35 menit, lima menit lebih cepat dari waktu biasanya, ada rekor baru ni, he he.
Setelah melepas lelah seadanya, saya menuju tempat wudhu yang berada di samping dapur rumah yang kami tinggali, saya berusaha merasakan sentuhan air segar yang menyentuh kulitku, masya Allah, nikmat sekali. 
Setelah tuntas bersih-bersih dan berwudhu lalu berdo'a dan segera mendirikan shalat magrib berjamaah yang nyaris ketinggalan.
Alhamdulillah, segala puji bagi-Mu wahai Tuhan, hanya dengan petunjuk-Mu saja kami bisa istiqomah.

Tidak ada komentar: