“Guru mendidik anaknya untuk
menjadi dewasa sedangkan murid mengantarkan sang guru menjadi bijaksana”.
Sebuah persfektif baru yang mencerahkan ketika seorang pendidik mampu
melihat sisi lain dari interaksi mereka bersama anak-anak didiknya, keberadaan
mereka adalah sebuah karunia besar yang dikirim oleh Allah sebagai guru tanpa
tanda jasa.
Persfektif kebanyakan guru adalah, guru itulah yang paling berjasa dan yang
paling berkontribusi dalam mengantarkan anak-anaknya menjadi pintar, meraih
mimpi-mimpinya, mengerti arti kehidupan,
sehingga seorang guru patut untuk diberi
gaji, mendapatkan ucapan terimah kasih dan layak utuk dihargai.
Sebenarnya secara tidak langsung, kontribusi murid kepada gurunya jauh
lebih besar dan tidak terbatas dibandingkan dengan apa yang telah berikan oleh
guru kepada mereka. Mereka itulah guru-guru kehidupan, guru-guru yang mengajarkan
hakekat kebaikan.
Seorang guru mungkin berjam-jam di dalam kelas menyampaikan materi
tentang sabar, tetapi bisa jadi hanya
sebatas teori. Tetapi anak-anak kita yang masih lugu-lugu itu, tanpa berteori panjang
lebar, telah mengajarkan kepada kita arti sabar yang sesungguhnya.
Ketika berkali-kali sang guru menegur anak-anaknya agar tetap focus dalam
menyimak apa yang disampaikan oleh gurunya, tetapi berkali-kali juga sang anak membuat
ulah yang menjadikan kelas tidak kondusif untuk belajar. Seorang guru berarti diajari untuk sabar oleh
muridnya.
Ketika sudah berulang-ulang sang murid mendapatkan penjelasan dari san guru tetapi belum juga dimengerti oleh mereka, berari seorang guru diajari arti tulus memberi.
Demikian juga ketika waktu istirahat telah tiba kemudian anak-anaknya mengelilingi sang guru di meja kerjanya sekedar untuk ngobrol, berarti oleh muridnya, sang guru dilatih untuk ikhlas dalam melayani.
Demikian juga ketika waktu istirahat telah tiba kemudian anak-anaknya mengelilingi sang guru di meja kerjanya sekedar untuk ngobrol, berarti oleh muridnya, sang guru dilatih untuk ikhlas dalam melayani.
Dan yang lebih spektakuler, dengan pertanyaan-pertanyaan anaknya yang konyol dan menggelikan, bahkan terkadang diluar logika sang guru, tentang apa yang
mereka ingin ketahui, menjadikan sang guru sebagai pembelajar sepanjang waktu.
Engkaulah wahai anak-anakku
adalah guru sejati, pahlawan tanpa tanda jasa, tapi sayangnya kami para guru kurang
menyadarinya.
Terima kasih atas kehadiranmu, karena denganmu kami dapat memahami makna sabar
yang sesungguhnya, arti tulus yang sebenarnya, dan hakikat ikhlas dalam hidup. Sekali
lagi terima kasih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar