Kamis, 16 Januari 2014



Egoisme

Egoisme sering diartikan sebagai sifat mementingkan diri sendiri. Biasanya orang yang miliki sifat egois yang kental sangat sulit memahami orang lain, mereka melihat dunia hanya memakai presfektifnya. Paradigma orang lain sudah jelas salah, masukan tidak berlaku bagi mereka.
Orang egois tak akan pernah bisa memahami orang lain sebab pada dasarnya mereka sendiri gagal dalam memahami dirinya sendiri. Mereka tidak memahami bahwa dirinya sendiri itu ada karena ada orang lain, mereka juga tidak menyadari antara persfektifnya berlawanan arah dengan hakikat keberadaannya.
Egoisme sebenarnya adalah kesalahan dalam memakai paradigma, ukuran benar salah selalu berdasarkan dirinya sendiri, jika sesuatu itu benar menurut dirinya dia akan lakukan meskipun merugikan orang lain, bahkan rela mengorbankan orang lain demi mencapai ambisinya.
Hal yang lucu terjadi jika orang-orang yang sama egoisnya bertemu, terkadang mereka  tidak hanya beradu argumentasi tetapi juga tak jarang adu jotos jika sama-sama mau memenangi persaingan atau perdebatan, malu jika terlihat kalah, mereka menganggap harga dirinya menjadi turun kalau mengalah.
Sifat egois yang seperti ini jelas merugikan sebab menghambat kerjasama, melemahkan tim, mengorogoti kekuatan, akhirnya berimbas pada tertundanya kesuksesan yang sudah ada didepan mata. Tentu semua kita tidak menginginkan itu terjadi didalam komunitas atau lingkungan kita.
Pada dasarnya semua orang memiliki ego termasuk diri kita. Ego adalah kehendak pribadi dan pikiran yang pertama muncul dalam mempersepsi sesuatu. Hanya saja yang membedakan adalah kadar dari masing-masing orang, sebagian orang menempatkan egonya pada proporsi yang pantas serta mampu mengelolahnya menjadi kekuatan posotif. Tetapi tak jarang juga yang kelewat batas dalam menempatkannya. Hal ini terjadi bila mengabaikan keberadaan orang lain dan mengangap pandangan dialah yang paling benar.
Orang egois yang kebabalasan jelas akan menemukan kendala dalam berinteraksi karena  lingkungan akan sulit menerimanya, penyebabnya adalah tidak ada keinginan dari dirinya untuk menyesuaikan dengan keadaan sekitarnya yang pada akhirnya makin terkucil dan hidup dalam kesendirian, tetapi jangan salah orang egois lagi-lagi akan menyalahkan lingungannya.
Selanjutnya orang egois akan kehilangan kepercayaan sebab lingkungan akan mengambil sebuah kesimpulan bahwa apa saja yang dilakukannya tidak lagi menjadi tulus untuk orang lain, karena toh orang egois tidak bakal berfikir untuk orang lain, dia hanya melihat kepentingan dirinya. Apa saja yang ingin dilakukan jika berurusan orang lain selalu menuntut timbal baliknya, apa untungnya untuk dia, kalau tidak buat apa capek-capek dikerjakan, buang-buang waktu, tenaga dan pikiran.
Sekadar untuk masukan, siapa tau bermanfaat. Pribadi yang egois mesti menyadari lebih dulu fakta akan dirinya bahwa mementingkan diri sendiri adalah sikap angkuh dan sombong yang dibenci oleh agama. Memandang remeh orang lain dan menolak kebenaran bukan sikap orang beriman. Maukan kita dicap sebagai orang yang tidak beriman? Tentu kita tidak mau.
Selanjutnya mungkinkah kita bisa hidup tanpa keberadaan orang lain? Orang tua kita? keluarga kita? tetangga kita? sahabat kita? rasanya sungguh keliru kalau ada yang orang yang menjawab ya. Dengan demikian bukalah ruang cinta untuk orang lain yang telah berjasa dalam hidup kita ini, berusahalah untuk merasakan apa yang mereka rasakan sehingga kita akan tergugah untuk melakukan kebaikan tanpa menunggu balasan sebab apa yang baik menurut diri kita, bagi orang lain juga akan baik dan apa yang kita benci sudah barang tentu orang lain juga akan membencinya.
Terakhir belajar melayani. Pada awalnya memang berat untuk berpura-pura jadi orang baik, tetapi rasakan respon orang meskipun kita hanya berpura-pura baik pada awalnya, kita akan kaget dengan respon positif yang kita terima, sebab demikianlah hakikat berbagi kebaikan yakni ganjaran yang kita dapatkan jauh lebih besar dari apa yang berikan kepada orang. Giliran berikutnya tanpa kita sadari diri kita menjadi orang yang tulus memberi.
Tersenyumlah, luangkan waktu meskupun sedikit untuk menyapa orang lain dan jangan segan-segan untuk berterima kasih bila mendapatkan kebaikan dari orang, mulailah saat ini juga.

Senin, 13 Januari 2014

Refleksi

Kata orang bijak, untuk menjadi tua cukup berbaring di atas ranjang selama satu atau dua tahun, umur kita akan bertambah satu atau dua tahun, dan jika dilakukan dalam waktu yang lebih lama dari itu berarti  umur kita bertambah lebih lama pula. Tetapi untuk menjadi lebih dewasa dari keadaan kita saat ini perlu usaha dan upaya sungguh-sungguh dalam meningkatkan kemampuan, pengetahuan, pengalaman dan keterampilan serta sikap positif untuk mau berubah, mau menerima kritik, masukan saran dari orang.

Kritik sesungguhnya adalah sarapan seorang pemenang, bila kita ingin lebih dewasa dari keadaan kita saat ini maka saudara kita perlu diberi ruang untuk memberi masukan, saran serta kritik pada diri kita dari sudut manapun, dan kita perlu membuka ruang itu lebar-lebar sebagai cerminan diri kita. Lantas bagaimana kalau kita adalah tipe yang sulit menerima kritik.

Sifat manusia kebanyakan ingin selalu menjadi orang paling benar, paling pintar, paling hebat, menjadi difensif dan berusaha membuktikan bahwa mereka memang paling menarik sehingga sangat sulit untuk mendengarkan pendapat orang.

Kebanyakan orang senang belajar, tetapi begitu sedikit yang rela diajari, begitu pengajaran mengarah kepada kritik kebanyakan orang mulai merasa tidak nyaman karena tidak tahan dikritik.

Bila kita berada pada posisi ini mulailah sekarang melihat kritik itu dari sisi positifnya bahwa dikritik itu memberi informasi yang kita butuhkan untuk membetulkan diri kita. Mulai sekarang terimalah kritik itu dengan prasangka  positif.

Berikut hal-hal yang bisa kita lakukan bila seseorang mengkritik kita :
  1. Ambil nafas dalam
  2. Tahan mulut anda
  3. Dengarkan
  4. Jujurlah dan terima apa yang ada temui
  5. Anggap itu sebagai umpan balik yang menguntungkan
  6. Anggap itu sebagai musik di telinga anda
  7. Tuliskan
  8. Bertindak
Selamat mencoba, semoga berhasil!

Sabtu, 04 Januari 2014

Generasi Penerus

Pemimpin hari ini adalah pemuda hari kemarin, dan pemimpin hari esok adalah pemuda hari ini.
Tanggungjawab besar yang melekat pada generasi hari ini adalah mempersiapkan calon pengganti genarasi masa depan. Hari ini adalah milik kita, tetap hari esok adalah milik anak-anak kita. Hari ini kitalah yang meberi warna kehidupan bangsa yang kita cintai ini, tetapi esok hari yang akan melakukannya adalah generasi calon pengganti kita.
Hari ini kita sudah berbuat, dan apa yang kita lakukan rasanya juga sudah maksimal, waktu, tenaga, pikiran, kita sudah kerahkan semuanya tetapi pada kenyataannya hasil yang kita capai belum maksimal, belum banyak yang bisa kita berikan kepada bangsa, negara dan agama yang kita cintai ini.
Orang tua hari ini tinggal menghitung hari saja, waktu untuk berbuat segera akan berakhir, dan selanjutnya anak-anak kitalah yang akan mengambil peran, yang akan menentukan seperti apa situasi bangsa ini beberapa dekade kedepannya. Mereka akan tampil memikul beban amanah dan tanggungjawab mengambil peran, entah itu mereka siap atau tidak siap, rela atau terpaksa, kompeten ataupun tidak, oleh karena itu sebagai orang tua bijak harus menyiapkan anak-anaknya untuk tampil sebagai generasi penerus yang mumpuni.
Sebagian orang tua menyadari benar akant tanggungjawab tersebut, namun tidak sedikit juga orang tua yang tidak mau ambil pusing, egois, bahkan menurut mereka urusan masa depan adalah urusan nanti yang tidak perlu pusing-pusing dipikirkan saat ini, biar waktu saja yang menentukannya. Padahal jika kita berfikir lebih jernih bahwa apa yang saat ini kita rasakan tidak lepas dari apa yang dilakukan oleh pendahulu-pendahulu kita.
Sebagai orang tua bertanggungjawab, yang menginginkan lahirnya genarasi yang kuat shaleh dan shalehah maka mereka merekayasa dirinya  menjadi pribadi yang baik, dengan pribadi-pribadi yang baik inilah akan terbentuk lingkungan keluarga yang baik yang di dalamnya akan tumbuh generasi yang baik pula.
Kita sebagai orang tua harus memasang tekat, membuat program dan menyusun langkah strategis, mempersiapkan diri dan keluarga kita agar dapat berdiri tegar menghadapi tantangan yang kita alami saat ini, serbuan budaya barat begitu gencar yang telah memporak-porandakan moral genarasi kita harus dilawan, jangan menyerah begitu saja dengan menyerahkan anak-anak kita dikendalikan oleh alat-alat elektronik, game online, interneta, main FB, Twitter dan sebagainya.
Orang tua yang sadar harus menjadi contoh dalah hal tersebut, ketika anak ingin dijauhkan atau dihindarkan dari dampak negatif dari kemajuan teknologi yang yang paling pertama menjauhinya adalah orang tua, tentu menjauhi dalam pengertian mempergunakan teknologi untuk keperluan yang baik saja. Kemudian yang sangat penting juga bagi orang tua adalah menjadi tauladan dalam melakukan kebaikan, mendatangi masjid shalat jamaah, mendatangi majlis-majlis ilmu, akrab dengan al Quran, menampakkan akhlaq yang baik ditengah-tengah keluarganya, sabar dalam membimbing anak dan istri
Jangan sampai yang kita lakukan kontra produktif dangan yang kita inginkan, kita menginginkan anak kita mencintai shalat jamaah tetapi ketika azan dikumandankan kita sebagai orang tua lebih asyik ngobrol tanpa peduli dengan shalat jamaah. Menginginkan anak kita akrab dengan al Quran tetapi kita sebagai orang tua lebih akrab dengan HP dari pada al Quran.
Sebagai orang tua, kita tentu sangat khawatir dengan keadaan yang terjadi ditengah-tengah kita saat ini, kemaksiatan merajalela yang hampir-hampir saja setiap saat dapat kita saksikan media informasi ataupun dalam dunia nyata keseharian kita yang pelakunya sebagian adalah anak-anak ABG teapi bukan berarti kesempatan kita untuk melakukan perbaikan sudah tidak ada lagi. Memang kita tidak bisa merubah keadaan yang sudah terlanjur rusak ini, tidak mungkin juga kita pergi ketetangga yang membuka usaha interentan, PS atau pergi ketoko yang menjual minuman haram, atau yang menjual rokoh untuk menyuruh menutup usahanya karena mudharatnya lebih banyak dan kalau tidak mau kita memaksanya, sekali lagi tidak mungkin.
Tetapi mari kita merubah apa yang bisa kita ubah. Yang paling bisa kita ubah tentunya diri kita sendiri. Sebuah ungkapan bijak yaang layak dijadikan sebagai spirit dalam melakukan perubahan tersebut sebagai berikut; 
Ketika aku muda, aku ingin mengubah seluruh dunia. Lalu aku sadari, betapa sulit mengubah seluruh dunia ini. Maka aku putuskan untuk mengubah negaraku saja.
Ketika aku sadari bahwa aku tidak bisa mengubah negaraku, aku mulai berusaha mengubah kotaku. Ketika aku semakin tua, aku sadari tidak mudah mengubah kotaku. Maka aku mulai mengubah keluargaku.
Kini aku semakin renta, aku pun tak bisa mengubah keluargaku. Ternyata aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa aku ubah adalah diriku sendiri.
Tiba-tiba aku tersadarkan bahwa bila saja aku bisa mengubah diriku sejak dahulu, aku pasti bisa mengubah keluargaku dan kotaku. Pada akhirnya aku akan mengubah negaraku dan aku pun bisa mengubah seluruh dunia ini.
Kuncinya, merubah dunia adalah merubah diri sendiri, saat ini mulai dari hal-hal yang sederhana. Insya Allah berangkat dari kesadaran dari diri sendiri inilah selanjutnya menghasilkan lingkungan yang secara otomatis berubah yang disana akan lahir generasi penerus yang baik pula.
Kita bersandar pada Allah, swt agar kiranya memudahkan langkah kita melakukan perubahan kearah yang lebih baik, dan  Semoga Allas swt juga membimbing kita menjadi orang tua bertanggungjawab, Amin!