Sabtu, 04 Januari 2014

Generasi Penerus

Pemimpin hari ini adalah pemuda hari kemarin, dan pemimpin hari esok adalah pemuda hari ini.
Tanggungjawab besar yang melekat pada generasi hari ini adalah mempersiapkan calon pengganti genarasi masa depan. Hari ini adalah milik kita, tetap hari esok adalah milik anak-anak kita. Hari ini kitalah yang meberi warna kehidupan bangsa yang kita cintai ini, tetapi esok hari yang akan melakukannya adalah generasi calon pengganti kita.
Hari ini kita sudah berbuat, dan apa yang kita lakukan rasanya juga sudah maksimal, waktu, tenaga, pikiran, kita sudah kerahkan semuanya tetapi pada kenyataannya hasil yang kita capai belum maksimal, belum banyak yang bisa kita berikan kepada bangsa, negara dan agama yang kita cintai ini.
Orang tua hari ini tinggal menghitung hari saja, waktu untuk berbuat segera akan berakhir, dan selanjutnya anak-anak kitalah yang akan mengambil peran, yang akan menentukan seperti apa situasi bangsa ini beberapa dekade kedepannya. Mereka akan tampil memikul beban amanah dan tanggungjawab mengambil peran, entah itu mereka siap atau tidak siap, rela atau terpaksa, kompeten ataupun tidak, oleh karena itu sebagai orang tua bijak harus menyiapkan anak-anaknya untuk tampil sebagai generasi penerus yang mumpuni.
Sebagian orang tua menyadari benar akant tanggungjawab tersebut, namun tidak sedikit juga orang tua yang tidak mau ambil pusing, egois, bahkan menurut mereka urusan masa depan adalah urusan nanti yang tidak perlu pusing-pusing dipikirkan saat ini, biar waktu saja yang menentukannya. Padahal jika kita berfikir lebih jernih bahwa apa yang saat ini kita rasakan tidak lepas dari apa yang dilakukan oleh pendahulu-pendahulu kita.
Sebagai orang tua bertanggungjawab, yang menginginkan lahirnya genarasi yang kuat shaleh dan shalehah maka mereka merekayasa dirinya  menjadi pribadi yang baik, dengan pribadi-pribadi yang baik inilah akan terbentuk lingkungan keluarga yang baik yang di dalamnya akan tumbuh generasi yang baik pula.
Kita sebagai orang tua harus memasang tekat, membuat program dan menyusun langkah strategis, mempersiapkan diri dan keluarga kita agar dapat berdiri tegar menghadapi tantangan yang kita alami saat ini, serbuan budaya barat begitu gencar yang telah memporak-porandakan moral genarasi kita harus dilawan, jangan menyerah begitu saja dengan menyerahkan anak-anak kita dikendalikan oleh alat-alat elektronik, game online, interneta, main FB, Twitter dan sebagainya.
Orang tua yang sadar harus menjadi contoh dalah hal tersebut, ketika anak ingin dijauhkan atau dihindarkan dari dampak negatif dari kemajuan teknologi yang yang paling pertama menjauhinya adalah orang tua, tentu menjauhi dalam pengertian mempergunakan teknologi untuk keperluan yang baik saja. Kemudian yang sangat penting juga bagi orang tua adalah menjadi tauladan dalam melakukan kebaikan, mendatangi masjid shalat jamaah, mendatangi majlis-majlis ilmu, akrab dengan al Quran, menampakkan akhlaq yang baik ditengah-tengah keluarganya, sabar dalam membimbing anak dan istri
Jangan sampai yang kita lakukan kontra produktif dangan yang kita inginkan, kita menginginkan anak kita mencintai shalat jamaah tetapi ketika azan dikumandankan kita sebagai orang tua lebih asyik ngobrol tanpa peduli dengan shalat jamaah. Menginginkan anak kita akrab dengan al Quran tetapi kita sebagai orang tua lebih akrab dengan HP dari pada al Quran.
Sebagai orang tua, kita tentu sangat khawatir dengan keadaan yang terjadi ditengah-tengah kita saat ini, kemaksiatan merajalela yang hampir-hampir saja setiap saat dapat kita saksikan media informasi ataupun dalam dunia nyata keseharian kita yang pelakunya sebagian adalah anak-anak ABG teapi bukan berarti kesempatan kita untuk melakukan perbaikan sudah tidak ada lagi. Memang kita tidak bisa merubah keadaan yang sudah terlanjur rusak ini, tidak mungkin juga kita pergi ketetangga yang membuka usaha interentan, PS atau pergi ketoko yang menjual minuman haram, atau yang menjual rokoh untuk menyuruh menutup usahanya karena mudharatnya lebih banyak dan kalau tidak mau kita memaksanya, sekali lagi tidak mungkin.
Tetapi mari kita merubah apa yang bisa kita ubah. Yang paling bisa kita ubah tentunya diri kita sendiri. Sebuah ungkapan bijak yaang layak dijadikan sebagai spirit dalam melakukan perubahan tersebut sebagai berikut; 
Ketika aku muda, aku ingin mengubah seluruh dunia. Lalu aku sadari, betapa sulit mengubah seluruh dunia ini. Maka aku putuskan untuk mengubah negaraku saja.
Ketika aku sadari bahwa aku tidak bisa mengubah negaraku, aku mulai berusaha mengubah kotaku. Ketika aku semakin tua, aku sadari tidak mudah mengubah kotaku. Maka aku mulai mengubah keluargaku.
Kini aku semakin renta, aku pun tak bisa mengubah keluargaku. Ternyata aku sadari bahwa satu-satunya yang bisa aku ubah adalah diriku sendiri.
Tiba-tiba aku tersadarkan bahwa bila saja aku bisa mengubah diriku sejak dahulu, aku pasti bisa mengubah keluargaku dan kotaku. Pada akhirnya aku akan mengubah negaraku dan aku pun bisa mengubah seluruh dunia ini.
Kuncinya, merubah dunia adalah merubah diri sendiri, saat ini mulai dari hal-hal yang sederhana. Insya Allah berangkat dari kesadaran dari diri sendiri inilah selanjutnya menghasilkan lingkungan yang secara otomatis berubah yang disana akan lahir generasi penerus yang baik pula.
Kita bersandar pada Allah, swt agar kiranya memudahkan langkah kita melakukan perubahan kearah yang lebih baik, dan  Semoga Allas swt juga membimbing kita menjadi orang tua bertanggungjawab, Amin!
 

Tidak ada komentar: