Generasi Penerus
Pemimpin hari ini adalah pemuda hari
kemarin, dan pemimpin hari esok adalah pemuda hari ini.
Tanggungjawab besar yang melekat pada generasi hari ini adalah
mempersiapkan calon pengganti genarasi masa depan. Hari ini adalah milik kita,
tetap hari esok adalah milik anak-anak kita. Hari ini kitalah yang meberi warna
kehidupan bangsa yang kita cintai ini, tetapi esok hari yang akan melakukannya
adalah generasi calon pengganti kita.
Hari ini kita sudah berbuat, dan apa yang kita lakukan rasanya juga sudah
maksimal, waktu, tenaga, pikiran, kita sudah kerahkan semuanya tetapi pada
kenyataannya hasil yang kita capai belum maksimal, belum banyak yang bisa kita
berikan kepada bangsa, negara dan agama yang kita cintai ini.
Orang tua hari ini tinggal menghitung hari saja, waktu untuk berbuat
segera akan berakhir, dan selanjutnya anak-anak kitalah yang akan mengambil
peran, yang akan menentukan seperti apa situasi bangsa ini beberapa dekade
kedepannya. Mereka akan tampil memikul beban amanah dan tanggungjawab mengambil
peran, entah itu mereka siap atau tidak siap, rela atau terpaksa, kompeten
ataupun tidak, oleh karena itu sebagai orang tua bijak harus menyiapkan
anak-anaknya untuk tampil sebagai generasi penerus yang mumpuni.
Sebagian orang tua menyadari benar akant tanggungjawab tersebut, namun tidak sedikit
juga orang tua yang tidak mau ambil pusing, egois, bahkan menurut mereka urusan
masa depan adalah urusan nanti yang tidak perlu pusing-pusing dipikirkan saat
ini, biar waktu saja yang menentukannya. Padahal jika kita berfikir lebih
jernih bahwa apa yang saat ini kita rasakan tidak lepas dari apa yang dilakukan
oleh pendahulu-pendahulu kita.
Sebagai orang tua bertanggungjawab, yang menginginkan lahirnya genarasi
yang kuat shaleh dan shalehah maka mereka merekayasa dirinya menjadi
pribadi yang baik, dengan pribadi-pribadi yang baik inilah akan terbentuk
lingkungan keluarga yang baik yang di dalamnya akan tumbuh generasi yang baik
pula.
Kita sebagai orang tua harus memasang tekat, membuat program dan menyusun
langkah strategis, mempersiapkan diri dan keluarga kita agar dapat berdiri
tegar menghadapi tantangan yang kita alami saat ini, serbuan budaya barat begitu
gencar yang telah memporak-porandakan moral genarasi kita harus dilawan, jangan
menyerah begitu saja dengan menyerahkan anak-anak kita dikendalikan oleh
alat-alat elektronik, game online, interneta, main FB, Twitter dan sebagainya.
Orang tua yang sadar harus menjadi contoh dalah hal tersebut, ketika anak
ingin dijauhkan atau dihindarkan dari dampak negatif dari kemajuan teknologi
yang yang paling pertama menjauhinya adalah orang tua, tentu menjauhi dalam
pengertian mempergunakan teknologi untuk keperluan yang baik saja. Kemudian yang
sangat penting juga bagi orang tua adalah menjadi tauladan dalam melakukan
kebaikan, mendatangi masjid shalat jamaah, mendatangi majlis-majlis ilmu, akrab
dengan al Quran, menampakkan akhlaq yang baik ditengah-tengah keluarganya,
sabar dalam membimbing anak dan istri
Jangan sampai yang kita lakukan kontra produktif dangan yang kita inginkan,
kita menginginkan anak kita mencintai shalat jamaah tetapi ketika azan
dikumandankan kita sebagai orang tua lebih asyik ngobrol tanpa peduli dengan shalat jamaah. Menginginkan anak
kita akrab dengan al Quran tetapi kita sebagai orang tua lebih akrab dengan HP dari pada al Quran.
Sebagai orang tua, kita tentu sangat khawatir dengan keadaan yang terjadi ditengah-tengah kita saat ini, kemaksiatan merajalela yang hampir-hampir saja setiap saat dapat kita saksikan media informasi ataupun dalam dunia nyata keseharian kita yang pelakunya sebagian adalah anak-anak ABG teapi bukan berarti kesempatan kita untuk melakukan perbaikan sudah tidak ada lagi. Memang kita tidak bisa merubah keadaan yang sudah terlanjur rusak ini, tidak mungkin juga kita pergi ketetangga yang membuka usaha interentan, PS atau pergi ketoko yang menjual minuman haram, atau yang menjual rokoh untuk menyuruh menutup usahanya karena mudharatnya lebih banyak dan kalau tidak mau kita memaksanya, sekali lagi tidak mungkin.
Tetapi mari kita merubah apa yang bisa kita ubah. Yang paling bisa kita ubah tentunya diri kita sendiri. Sebuah ungkapan bijak yaang layak dijadikan sebagai spirit dalam melakukan perubahan tersebut sebagai berikut;
Sebagai orang tua, kita tentu sangat khawatir dengan keadaan yang terjadi ditengah-tengah kita saat ini, kemaksiatan merajalela yang hampir-hampir saja setiap saat dapat kita saksikan media informasi ataupun dalam dunia nyata keseharian kita yang pelakunya sebagian adalah anak-anak ABG teapi bukan berarti kesempatan kita untuk melakukan perbaikan sudah tidak ada lagi. Memang kita tidak bisa merubah keadaan yang sudah terlanjur rusak ini, tidak mungkin juga kita pergi ketetangga yang membuka usaha interentan, PS atau pergi ketoko yang menjual minuman haram, atau yang menjual rokoh untuk menyuruh menutup usahanya karena mudharatnya lebih banyak dan kalau tidak mau kita memaksanya, sekali lagi tidak mungkin.
Tetapi mari kita merubah apa yang bisa kita ubah. Yang paling bisa kita ubah tentunya diri kita sendiri. Sebuah ungkapan bijak yaang layak dijadikan sebagai spirit dalam melakukan perubahan tersebut sebagai berikut;
“Ketika aku muda, aku ingin mengubah seluruh
dunia. Lalu aku sadari, betapa sulit mengubah seluruh dunia ini. Maka aku
putuskan untuk mengubah negaraku saja.
Ketika aku sadari bahwa aku
tidak bisa mengubah negaraku, aku mulai berusaha mengubah kotaku. Ketika aku
semakin tua, aku sadari tidak mudah mengubah kotaku. Maka aku mulai mengubah
keluargaku.
Kini aku semakin renta, aku
pun tak bisa mengubah keluargaku. Ternyata aku sadari bahwa satu-satunya yang
bisa aku ubah adalah diriku sendiri.
Tiba-tiba aku tersadarkan
bahwa bila saja aku bisa mengubah diriku sejak dahulu, aku pasti bisa mengubah
keluargaku dan kotaku. Pada akhirnya aku akan mengubah negaraku dan aku pun
bisa mengubah seluruh dunia ini.
Kuncinya,
merubah dunia adalah merubah diri sendiri, saat ini mulai dari hal-hal
yang sederhana. Insya Allah berangkat dari kesadaran dari diri sendiri
inilah selanjutnya menghasilkan lingkungan yang secara otomatis berubah
yang disana akan lahir generasi penerus yang baik pula.
Kita bersandar pada Allah, swt
agar kiranya memudahkan langkah kita melakukan perubahan kearah yang
lebih baik, dan Semoga Allas swt juga membimbing kita menjadi orang tua bertanggungjawab, Amin!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar